Assalamu'alaykum sahabat. Pagi yang cerah ini patut kita syukuri sebab masih dapat menikmati anugerah Allah yang tiada hentinya mengalir untuk kita.
Berbicara tentang 'Syukur', akan banyak definisi yang akan muncul dikalangan umat, sesuai dengan keadaan dan kejadian yang mereka alami. Terlepas dari itu, apa sebenarnya makna dari syukur dalam islam?
Kata Syukur diambil dari kata syakara, syukuran, wa syukuran, yang berarti berterimakasih kepada-Nya. Bila disebut kata asy-syukru, maka artinya ucapan terimakasih, syukranlaka artinya berterimakasih bagimu, asy- syukru artinya berterimakasih, asy-syakir artinya yang banyak berterima kasih.
Menurut Kamus Arab - Indonesia, kata syukur diambil dari kata syakara, yaskuru, syukran dan tasyakkara yang berarti mensyukuri-Nya, memuji-Nya.
Syukur berasal dari kata syukuran yang berarti mengingat akan segala nikmat-Nya. Menurut bahasa syukur adalah suatu sifat yang penuh kebaikan dan rasa menghormati serta mengagungkan atas segala nikmat-Nya, baik diekspresikan dengan lisan, dimantapkan dengan hati maupun dilaksanakan melalui perbuatan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa syukur menurut istilah adalah bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, lega, senang dan menyebut nikmat yang diberikan kepadanya dimana rasa senang, lega itu terwujud pada lisan, hati maupun perbuatan.
Untuk itu, kenapa kita selalu dituntut untuk bersyukur dan berterimakasih kepada Allah Azza Wa Jall, sebab kesenangan yang kita rasakan, kebahagiaan yang kita alami, tak lain dari Allah yang maha pemurah. Bersyukur juga membuat seseorang menjadi lebih qanaah dan sederhana, tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan kemewahan terlebih dalam urusan duniawi. Bukan hanya itu, jika seseorang bersyukur, Allah akan membalas dengan nikmat yang lebih besar lagi. Nikmat yang tak disangka-sangka. Sebagaimana firman-Nya;
“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”(QS. Ibrahim: 7)
Berdasarkan dalil diatas, Allah akan sentiasa menambah nikmat kepada hamba-Nya yang tak lupa bersyukur atas karunia yang didapat, entah itu nikmat kecil atau nikmat yang besar. Dan sebaliknya, Allah akan memberi peringatan berupa adzab kepada hamba yang selalu mengingkari pemberian Allah. Adzab tersebut kadang tak diketahui oleh seorang hamba bahwa ia telah diadzab dengan sedikit demi sedikit hartanya semakin berkurang tanpa disadarinya. Ataupun adzab yang lebih pedih lagi diakhirat kelak.
Maka dari itu, bersyukur harus menjadi rutinitas kita setiap hari, jangan sampai hati kita lupa bersyukur yang membuat Allah murka kepada kita.
Ulama tasawuf terdahulu, mereka membagi-bagi syukur itu atas tiga bagian yaitu:
1. Syukur dengan Hati
Syukur hati yaitu menggambarkan dan selalu merasakan Kurnia Allah Swt, kemahamurahan dan anugrah-Nya. Serta merealisasikan perasaan tersebut menjadi perasaan cinta kepada Allah Swt, Kitab suci-Nya dan Rasul Nya.
2. Syukur dengan Lisan
Adapun syukur dengan lisan adalah penilaian hati, getaran hati yang menjalar kepada anggota badan melalui mulutnya yang senantiasa basah, memuji nikmat-Nya dan menyebut nama Allah Swt berupa wirid dan dzikir seperti tahmid, takbir, tasbih dan bentuk puji-pujian yang lain terhadap Allah Swt. Termasuk dalam katagori syukur pada lisan ini ialah seorang yang sentiasa memuji-muji nikmat Allah di hadapan manusia lainya, mengajak manusia untuk sama-sama bersyukur dan menzhohirkan kesyukuran itu melalui ibadat dan majlis-majlis ilmu yang bertujuan untuk mengajak manusia supaya taat dan patuh kepada Allah Swt.
3. Syukur dengan Seluruh Anggota Tubuh
Selanjutnya yang termasuk dengan bersyukur pada seluruh anggota adalah kita telah menyadari bahwa seluruh anggota badan, jiwa dan raga milik Allah Swt semata. Kemudian kita menggunakan dan memakainya untuk hal-hal kebaikan juga. Dari mulai mata, telinga, tangan, kaki, mulut dan sebagainya itu semua milik Allah Swt dan kita harus menggunakannya untuk keridhoan Allah Swt juga.
Itulah bentuk-bentuk syukur terhadap Allah. Sikap kita sebagai orang beriman, hendaklah sentiasa bersyukur serta memuji dan mengangungkan Allah, sebab apa yang dilangit dan dibumi ini, kepunyaan hanyalah milik Allah semata. Kita hanyalah tempat titipan sementara dan akan berakhir ketempat semula. Semoga kita termasuk orang-orang yang sentiasa bersyukur kepada Allah. Aamiin.
Wallahu A'lam
thanks gan informasinya
BalasHapussama2 gan, trimakasih tlah mampir...
Hapus