Benarkah Caraku Mencintaimu?

Rasa cinta adalah sesuatu yang fitrah. Cinta adalah sifat manusiawi dan suatu hal yang wajar dimiliki oleh setiap insan. Dengan cinta, membuat hidup terasa bermakna. Objek cinta terbagi beberapa bagian, cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada sesama manusia maupun cinta kepada alam.

Hakikatnya, cinta pada Allah dengan selalu beribadah kepadaNya, menumbuh rasa penghambaan sebagai makhluk lemah dihadapanNya serta rasa takut akan siksaNya. Mengagungkan nama dan segala sifat-sifatNya yang mulia. Melaksanakan segala apa yang diperintahkan dan menjauhi atas segala yang dilarangnya tanpa ada rasa terpaksa. Cinta kepada Rasulullah adalah taat dan mengikuti sunnahnya. Mengikuti akhlak beliau dari berbagai segi kehidupan.

Begitupun dengan cinta kepada jagad raya ini. Menjaga dan melestarikan adalah bentuk kecintaa kita dengan alam agar tetap indah.

Cinta kepada sesama manusia. Banyak yang salah kaprah dengan cinta yang satu ini dan seolah-seolah apa yang dilakukannya adalah hal mubah. Bagaimanakah mencintai sesama? Benarkah cara kita mencintainya?

Cinta terhadap sesama sangat banyak, yaitu cinta kepada orang tua adalah hal yang paling utama. Cinta pada kerabat dekat, cinta kepada sahabat atau teman dan cinta terhadap saudara seiman. Dan yang paling banyak salah memahami adalah cinta terhadap lawan jenis (bukan mahram).

Dalan Islam, mencintai lawan jenis adalah manusiawi bahkan itu kenormalan manusia. Mencintai seseorang yang tidak bisa kita hindari. Namun, benarkah cara kita mencintainya, atau ada hal yang keliru didalamnya?

Saat ini, dizaman fitnah ini, para remaja sedang dilanda dengan aktivitas pacaran, yang katanya salah satu cara mencintai sesama. Benarkah cara ini? Atau ada cara yang lebih baik dari cara ini?

Pacaran adalah aktivitas dimana seorang laki-laki dan seorang wanita berinteraksi dengan cara yang melanggar syariat. Berkhalwat atau berdua-duaan, sudah kita ketahui bahwa dalam Islam dilarang berdua-duaan yang bukan mahram, karena pasti yang ketiga adalah syaithan (al hadits).

Bersentuhan yang bukan mahram. Hal ini akan terjadi dalam pacaran, padahal ini adalah dosa besar. Bahkan nabi mengatakan bahwa lebih baik ditusuk besi panas dikepala daripada bersentuhan dengan orang yang tidak halal (alhadits).

Berpandang-pandangan. Saat berduaan, muatahil untuk tidak saling memandang, dan itulah terjadi saat aktivitas pacaran. Memandang satu sama lain yang bisa menimbulkan syahwat. Memandang yang tidak selayaknya (haram) dipandang adalah zina (al hadits).

Segitu banyaknya hal yang dilarang didalam pacaran, pantaslah jika ini adalah cara mencintai yang salah. Karena cinta yang benar tidak akan membawa kepada hal yang nista (zina). Cinta yang hakiki akan membawa kepada kebahagiaan. Cinta yang benar ialah cinta yang tidak melanggar aturan syar'i.

Jadi, bagaimanakah cinta yang benar? Rasul telah memberikan cara terbaik, yaitu menikah. Dengan menikah, yang tadinya berduaan haram, maka setelah menikah menjadi ibadah. Yang tadinya bersentuhan haram, setelah menikah menjadi ibadah. Yang tadinya saling memandang adalah haram, setelah menikah akan menjadi ibadah. Maka inilah cara terbaik untuk mencintai yang tidak melanggar hukum syar'i.

Bagaimana jika belum mampu? Maka tinggalkanlah, tidak usah berpacaran yang tidak akan menguntungkanmu. Jangan menjadikan sesuatu yang sebenarnya fitrah, namun cara kita membuatnya terlarang.

Pesan terakhir untuk orang yang masih bergelut dengan dunia pacaran, yaitu Halalkan atau Tinggalkan, Nikahi atau Jauhi. Sesuatu yang kita lakukan baik, maka akan berakhir baik pula. Ingat, jodoh tidak alan tertukar. Sesuatu yang kita tinggalkan karena Allah, maka akan digantikan dengan yang lebih baik (al hadits), insya Allah.

Wallahu A'lam.

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Benarkah Caraku Mencintaimu?"

Syukran atas kunjungannya, jazakumullahu khair.
• Berkomentarlah dengan baik, sopan dan hindari debat kusir.
• Silahkan memberi kritikan dan saran yang membangun.