Pakai Dalil, Bukan Nafsu

Pernahkah kita melihat segelintir bahkan sebagian kaum muslim yang tatkala ia beribadah hanya menggunakan nafsu dan kepuasannya semata? Tentu, sebab hal ini sudah sering terjadi hingga saat ini. Dimana mereka beribadah kepada Allah mengandalkan hawa nafsunya semata dan tak peduli apakah itu disyariatkan atau tidak dalam agama. Mereka selalu berdalih "Inikan baik, kenapa mesti dilarang" & dan alasan-alasan lain yang sebenarnya membuat mereka tersesat.

Mereka tidak melihat dalil untuk mengerjakan sesuatu (ibadah), mereka akan langsung menilai kebaikan ibadah tersebut dengan hawa nafsunya. Tatkala ditegur terhadap apa yang mereka kerjakan, mereka seolah tak terima atas tuduhan itu dan tetap kekeuh pada pendiriannya untuk mempertahankan ibadah yang kalau mengikuti Al Quran dan Sunnah Nabi Sahallallahu 'Alayhi Wasallam kita tidak akan temukan tentang perintah untuk melaksanakan ibadah tersebut. Dan sudah kita ketahui hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan. Namun, mereka seolah tak mendengar dan meremehkan hal tersebut.

Beginilah akibatnya orang yang ingin beramal tanpa ilmu, semua yang dianggap baik mereka lakukan. Padahal jelas-jelas Allah menjelaskan dalam firmannya:

"Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (QS. Al-Baqarah : 216)

Cukup bahaya memang orang yang ingin beribadah namun tanpa ilmu sedikit pun tentang ibadah tersebut, bisa jadi ibadah tersebut adalah bid'ah dalam agama yang tak pernah Nabi dan sahabat pun pernah kerjakan. Apalagi hanya dengan mengandalkan nafsu, mereka akan mengkreasikan ibadah yang menurutnya baik dan memasukkannya dalam agama.

Dalam agama, menuntut ilmu yang harus diprioritaskan sebelum mengerjakan amalan-amalan yang lain. Ini akan menuntun seorang muslim jika hendak melakukan sesuatu amalan, dengan ilmu ia bisa membedakan antara haq dan bathil, membedakan ibadah yang disyariatkan atau tidak.

Sebagai muslim memang sudah kewajiban kita untuk menuntut ilmu, kita diwajibkan mengetahui batasan-batasan agama, jangan sampai kita seenaknya mengotak-atik syariat atas dasar hawa nafsu kita. Agama ini punya dalil (wahyu) untuk menjalannya, jadi kita beribadah memakai dalil yang ada bukan sekehendak hawa nafsu. Karena tanpa dalil tentu orang-orang akan bebas menentukan pilihannya dalam beribadah, yang penting baik. Baik belum tentu benar.

Kita tak boleh meremehkan hal ini, seperti yang disinggung diatas, ini bisa menghadirkan bid'ah (sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak ada) dalam agama, yang dimana Nabi bersabda:

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Dalam hadis lain Nabi menegaskan perkara ini. Nabi bersabda:

"Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

Hadits tersebut menjelaskan sia-sianya amalan (baca ibadah) yang tak pernah ada tuntunan dari Nabi Shallallahu 'Alayhi Wasallam, karena sudah jelas akan tertolak. Dan itu juga adalah perkara yang paling jelek dalam agama bahkan berujung pada kesesatan, yang dimana kita ketahui kesesatan jelas tempatnya bukan disurga. Na'udzubillah.

Jadi, mengikuti Al Quran wa Sunnah adalah hal yang pertama dan utama, terlebih dalam urusan ibadah. Sebab jangan sampai melakukan berkara-perkara bid'ah yang tak disyariatkan oleh agama, karena itu adalah kesesatan yang nyata. Kita harus mengikuti dalil, sebab dalil sangat penting untuk kita ketahui, agar ibadah yang kita kerjakan sesuai dengan perintah dan petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam.

Wallahu A'lam

Baca Juga: Taati Aturan Allah

Postingan terkait:

3 Tanggapan untuk "Pakai Dalil, Bukan Nafsu"

Syukran atas kunjungannya, jazakumullahu khair.
• Berkomentarlah dengan baik, sopan dan hindari debat kusir.
• Silahkan memberi kritikan dan saran yang membangun.